Memasuki bulan kelahiran Nabi
saw., Rabiul Awal 1430 H umat Islam di perkotaan dan di pedesaan setidaknya
telah mempersiapkan diri untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw.
Berbagai acara nantinya telah disusun rapi, mulai dari rencana siapa ustaz yang
diundang sampai rencana mengadakan acara perlombaan untuk memeriahkan acara
tersebut.
Namun bagaimana bila peringatan Nabi saw. yang tujuannya
untuk menghormati (ihtiram) dan satu
bentuk untuk mengetahui atau mencontoh sisi kehidupan beliau sebagai uswatun hasanah dipandang sebagai
bid’ah?. Setiap bid’ah adalah sesat dan
kesesatan tempatnya di neraka. Bahkan ada individu yang menyamakannya dengan
peringatan hari besar di luar agama Islam, ma’adzallah.
Tidak layak kias ini ditujukan kepada Nabi saw.
Pengertian
Imam Abil Hasanat Muhammad
Hayy al-Kanawi di dalam kitabnya Iqamat
al-Hujjah ala annal al-Iktsar fi ta’abbdudi Laisa bi Bid’ah mendefenisikan bid’ah
secara bahasa artinya adalah pengadaan hal-hal baru termasuk di dalamnya
persoalan adat istiadat, muamalat maupun ibadah. Sedangkan secara istilah
artinya penambahan atau pengurangan masalah-masalah agama yang datang dari Nabi
saw. tanpa dikuatkan dasar oleh dasar hukum syara’ baik dalam bentuk perkataan
atau perbuatan yang jelas maupun yang samar.
Imam Abil Hasanat Muhammad
Hayy al-Kanawi memaparkan bahwa bid’ah
dhalalah khusus dalam pengertian penambahan atau pengurangan dalam agama
setelah sahabat, tanpa pengesahan syara’ secara tersirat dari dasar hukum. Karena itu para Mujtahid membagi bid’ah
kepada mubah, mustahab bahkan wajib. Bid’ah mubah seperti menggunakan alat yang
dipergunakan sebagai sarana untuk makan. Bid’ah mustahabbah seperti membangun
madrasah atau mengarang buku-buku. Sedangkan yang dipandang bid’ah wajib adalah
menyusun dalil-dalil kuat untuk menolak faham-faham atheisme dan segala
infiltrasi terhadap agama Islam.
Pembicaraan mengenai bid’ah
merupakan pembicaraan yang tak pernah usai. Persoalan ini mengakibatkan umat Islam berbeda
pendapat, termasuk juga peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. Sebagian ulama
ada yang berpendapat adanya bid’ah
hasanah dan ulama lainnya menafikan adanya bid’ah hasanah. Persoalan memperingati maulid Nabi saw. bukan masalah
prinsip sehingga menggugurkan prediket keislaman seseorang. Persoalan ini merupakan persoalan ijtihadi. Peringatan hari
kelahiran Nabi bukan bermaksud membuat syari’at baru dalam Islam.
Lintas Sejarah Peringatan Maulid
Ketua Umum Dewan
Syura DPP PKB, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) penulis kutip dari http://groups.yahoo.com/group/islam-kristen/message/ menjelaskan
peringatan kelahiran Nabi
saw. pertama kali dirayakan kaum Muslimin atas perintah Sultan Shalahuddin
al-Ayyubi dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi. Tujuannya untuk mengobarkan
semangat kaum Muslimin, agar menang dalam Perang Salib (crusade), maka ia
memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad tersebut, enam
abad setelah Rasulullah wafat.
Sedangkan Sultan Shalahuddin
al-Ayyubi (Saladin the Saracen), penguasa dari wangsa Ayyub yang berkebangsaan
Kurdi non-Arab itu, enam abad setelah Nabi Muhammad saw. wafat, harus berperang
melawan orang-orang Kristiani yang dipimpin Richard berhati singa (Richard the
Lion Heart) dan Karel Agung (Charlemagne) dari Inggris dan Prancis untuk
mempertanggungjawabkan mahkota mereka kepada Paus, melancarkan Perang Salib ke
tanah suci. Untuk menyemangatkan tentara Islam yang melakukan peperangan itu, Sultan
Shalahuddin al-Ayyubi memerintahkan dilakukannya perayaan Maulid Nabi saw. di
bulan kelahiran beliau. Bahwa kemudian peringatan itu berubah fungsinya, yang
tidak lagi mengobarkan semangat peperangan kaum Muslimin, melainkan untuk
mengobarkan semangat orang-orang Islam dalam perjuangan (tidak bersenjata) yang
mereka lakukan, Ini merupakan perjalanan
sejarah yang sama sekali tidak mempengaruhi asal-usul kesejarahannya.
Peringatan Maulid Bid’ah
Ulama yang mengatakan
peringatan maulid adalah bid’ah berdalil dengan hadis yang diriwayatkan
Bukhari, artinya: ”Barang siapa mengada
adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan ( agama) kami yang (sebelumnya) tidak
pernah ada, maka akan ditolak”.
Syekh bin Baz mengatakan bahwa
tidak boleh mengadakan kumpul kumpul/pesta pesta pada malam kelahiran
Rasulullah saw. dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu
perbuatan baru (bid’ah) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah
mengerjakanya, begitu pula Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para
Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan orang orang
yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih banyak mencintai Rasulullah dari
pada generasi setelahnya, dan benar-benar menjalankan syariat.
Berkaca dari imam mazhab
terdahulu bagaimana mereka menyikapi perbedaan pandangan atau ijtihad di antara
mereka. Imam mazhab yang empat yang dikenal memiliki keilmuan yang tidak
diragukan lagi, tak pernah didapati mereka saling menyudutkan dan saling
menyalahkan karena adanya perbedaan di antara mereka.
Abdul Sami’ Ahmad Imam dan
Muhammad Abdul lathif asy- Syafi’i di
dalam kitab al-Mujaz fi fiqh al-Islami fi
al-Muqarin menjelaskan imam Syafi’i meninggalkan qunutnya oleh karena
beliau salat dengan berimam pada Mazhab Hanafiah. Hal ini menunjukkan tasamuh (toleransi) mereka terhadap
perbedaan pendapat.
Terlepas dari perbedaan
pendapat bahwa peringatan maulid bukan termasuk atau tidak termasuk pada bid’ah
atau ada yang mengatakan bahwa peringatan maulid ini termasuk dari maslahat mursalah (menurut Prof. DR. H.
Hasbi asy-Syiddieqy ketika membedakan bid’ah dengan Sunnah di dalam bukunya Kriteria Sunnah dan Bid’ah menjelaskan: maslahat mursalah adalah pekerjaan yang
dapat dipahamkan maknanya, dapat diketahui maksudnya hikmatnya, diterima cepat
akal dengan cepat. Tiada masuk pula
dalam urusan ibadah), mari kita
saling menghargai pendapat dengan tidak
menganggap pendapat pribadi atau kelompok benar dari pendapat yang ada. Tujuannya
tidak lain adalah agar terpelihara kekondusifan dalam Islam itu sendiri.
Mudah-mudahan peringatan
kelahiran Nabi saw. Tidak hanya sekedar simbol atau hanya untuk ikut-ikutan
saja tanpa mengambil nilai dari kehidupan Nabi saw. Walaupun peringatan
kelahiran Nabi saw. Bukanlah
satu-satunya ajang untuk mengetahui dan
memotivasi diri dan mencontoh kehidupan
Nabi saw.

0 komentar:
Posting Komentar